Kamis, 01 Maret 2018

Puisi Pembelaan Wanita

      •°•SAMAR RINTIHAN BUNGA PUTIH•°•
                 Oleh: Risca Nanda Fontia

Rintihanmu ibarat radio tak berantena,
Kudengar, tetap saja tak kuacuhkan.
Mata sipitmu tak lagi dapat membuka kelopaknya,
Sementara rintihan terdengar samar-samar, memar.
Redup padam suaramu,
Lumat tamat matamu,
Ibarat tak bernyawa sebuah harapan.

Apakah semua makhluk itu tuli?
Kelopakmu dihisap oleh nafsu membara,
Batang tak berduri dijamah tangan-tangan nakal tak terpelajar.
Tidak mungkin bunga itu hanya bisa diam dikala rona kelopak terpecah,
Tidak mungkin bunga itu hanya diam membisu,
 Dikala serat pelepah mulai tersingkap.

Kelopak yang layu tak lagi bergairah,
Batang yang merunduk hina,
Serat pelepah tersingkap lepas,
Serta benang sari bersimpah ruah.

Kulit putih tak bersisik,
Kini pudar bak tenggelam tinta hitam.

Bahkan mata menjadi buta dikala senja menyapa,
Telinga seakan tuli tak mendengar rintihanmu.
Serta rongga hati tertutup debu tebal.

Kau telah kehilangan serbuk sari oleh kumbang-kumbang biadap.
Tak lagi dapat kembali serbuk serta mahkota indahmu.

Sungguh menyedihkan menjadi sekuntum bunga,
Ketika mekar, terselip disudut telinga perawan.
Tapi kini, telah layu tak semangat! Pucat tak bergairah!
Serta mati tanpa penghormatan berarti.

Tolong!
Tolong beri ia kedamaian untuk hidup!
Berikan ia kesejahteraan tuk kembali mekar berbahagia!
Jangan biarkan ia layu merunduk tanpa pupuk,
Juga mati terinjak tapak tak bertuan.

Lindungi ia yang hanya sekuntum bunga,
Walau ia mudah layu dan mati.
Juga hormati ia,
Yang pernah memberi warna kehidupan,
Walau hanya sekucup mata memandang.

Aceh, 28 Januari 2018

Kisah Nyata "Terbitlah Kala"

Bahagia? Sebuah mimpi yang sedang aku usahakan 14 tahun silam untuk menjadi sebuah nyata. Sebut saja namaku kala, kelas 5 SD pahitnya hidup ...