Senin, 29 Oktober 2018

Puisi Kematian

ARLOJI KEMATIAN
Oleh: Risca Nanda Fontia

Ketika detik tak lagi berdetak,
Raga menggulung diri di ranjang renta.
Kerap terdengar riuh igaumu sepanjang pekat malam.
Tatapanmu kosong, suram, tak berpenghuni,
Hingga tampak oleh mata, nyawamu melompat-lompat di atas dada.

kurasa, di ketika arloji tak bernyawa,
Sejuk datang menggoda manja,
Di kala kabut malam masih berdiam diri.

Jikalau diizinkan, ingin kudekap gunung menjulang,
Demi terpuaskan hasrat, serta menghangatkan darah dingin.
Ingin kutenun ayat-ayat cinta sepanjang lorong rahasiamu,
Cinta abadi yang tak dapat kuraih bersamanya.

Aku tengkurap, merangkak melata di atas pualam beku,
Tersesat akan lebatnya pepohonan hutan padang panjang,
Serta akar-akar kokoh yang menghalangi jalanku.
Karena setiap harapan yang kugali disana,
Sering menjelma kesuraman yang menggelapkan jalan menuju kebahagiaan.

Aceh, 12 Februari 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kisah Nyata "Terbitlah Kala"

Bahagia? Sebuah mimpi yang sedang aku usahakan 14 tahun silam untuk menjadi sebuah nyata. Sebut saja namaku kala, kelas 5 SD pahitnya hidup ...