Kamis, 21 Maret 2019

Cerpen "Hilangnya Peran si Jari Manis"

   Hilangnya Peran si Jari Manis
Oleh: Fontia_atj

      Impian yang terbelenggu dalam sebuah angan, membuatku depresi setengah gila. Kurasa, tiada makna dibalik kehidupanku selama ini. Tiada suka, melainkan duka yang teramat menyesakkan dada.
      Semasa sekolah menengah atas sewaktu dulu, perbincangan tentang percintaan adalah topik yang sering diangkat dalam sebuah pembicaraan. Baik lelaki maupun wanita, semua bercerita menggebu dengan busa di samping kanan kiri sudut bibirnya. Aku sangat teringat akan hal itu, bagaimana tidak? Aku pun sering menjadi pembicara dengan tema pernikahan saat itu, banyak teman-teman yang memuji karena pengetahuanku tentang pernikahan. Dan tak sedikit yang menebak jalan percintaannya yang sangat diidamkan para wanita (katanya). Ya, akupun sempat berfikir, apakah aku bisa menjadi seorang istri yang banyak diidamkan oleh para pria pada umumnya? Entahlah, biarkan menjadi rahasia yang mungkin indah, atau bisa saja buruk.
      Setelah menerima kelulusan sekolah menengah atas, akhirnya kami berpisah menempuh jalan masing-masing. Beberapa diantara mereka memutuskan untuk menetap dirumah dan menikah. Dan lainnya lagi melanjutkan pendidikan ke Universitas favorit masing-masing. Begitu pula dengan aku yang mendambakan sebuah Universitas untuk melanjutkan pendidikan. Beriring berjalannya waktu, kini aku menduduki semester akhir. Dan telah banyak sekali teman-teman yang sudah menempuh kehidupannya masing-masing (menikah). Ditengah kesulitanku mengerjakan tugas akhir perkuliahan, berbagai macam penyakit pun mulai menyerang, mulai dari lambung dan juga typus. Hingga keluar masuk rumah sakit pun menjadi hobi baru. Dan pada akhirnya aku mulai putus asa dengan takdirku, setelah penyakit lambung dan typus berhasil kukalahkan, penyakit baru datang memperkenalkan diri dan bersemayam hampir setahun lebih. Tiada obat yang dapat menyembuhkan, melainkan kesabaran dan doa kesembuhan yang tak pernah henti kulantunkan. "SCABIES" penyakit kulit yang pernah ku anggap sepele akan kehadirannya. Tapi ternyata, setahun lebih berlalu dan penyakit tersebut semakin merajalela menggerogoti badanku. Jari manis yang sejak dulu ku dambakan akan tersendatnya lingkaran indah pertanda suatu hubungan yang sakral. Kini, telah kehilangan perannya. Ia menghilang sebab SCABIES yang memakannya secara rakus. Keterpurukannya kini membuat semua hidupku hancur melebur. Beberapa pria melontarkan perihal perasaannya terhadapku. Bahkan semua kutolak karena tak ada lagi kesempurnaan yang patut didambakan, tiada lagi kemanisan dalam diri yang patut dipamerkan. Hidup terpasung jeratan besi. Iya, itulah hidupku yang terlalu berharap akan lingkaran manis di jari yang tak lagi berhenti menangis.

Aceh, 22 Maret 2019

Kisah Nyata "Terbitlah Kala"

Bahagia? Sebuah mimpi yang sedang aku usahakan 14 tahun silam untuk menjadi sebuah nyata. Sebut saja namaku kala, kelas 5 SD pahitnya hidup ...