Bahagia? Sebuah mimpi yang sedang aku usahakan 14 tahun silam untuk menjadi sebuah nyata. Sebut saja namaku kala, kelas 5 SD pahitnya hidup kerap tak terasa lagi karena sudah kenyang aku dibuatnya. Sebenarnya sebelum kelas 5 SD pun, pahit sudah pernah kucicipi tapi tak terlalu kuingat sebab ingatan masih tumpul. Terlahir sebagai anak perempuan pertama, aku dilatih untuk berdiri tegap dan pandai serta tangguh. Tidak dengan ucapan, ibarat kata anak kuliahan sedang menjalani praktek lapangan. Ya, aku yang masih berumur 10 tahun sudah biasa hidup mandiri, tidak seperti kebanyakan anak lainnya yang masuk sekolah diantar jemput, aku memilih melewati kebun kacang panjang milik petani setempat dengan kedua kaki mungilku. Ya, melewati kebun yang rimbun dan kemungkinan besar bisa saja dihuni oleh ular atau binatang lainnya. Tak mengapa, aku tak menghiraukan dan tetap pulang dengan santai dan sedikit menyanyi kecil memecah keheningan sembari memetik 1,2 kacang panjang untuk langsung kusantap sebagai cemilan jalan pulang. Bukannya tidak ada jalan aman, hanya saja mentalku yang tidak aman jika harus di olok orang miskin yang tak mampu membeli sepeda dan gadis jelek penjual Sagon (cemilan terbuat dari tepung sagu dengan campuran kelapa parut yang kemudian di oseng). Aku senang saja melakukan semua hal itu, tapi tidak dengan ejekan mereka yang sembari tertawa mengatai kehidupan yang sebenarnya tidak aku inginkan.
"Kala, jangan lupa beli plastik es lilin" suara mamak membuyarkan mimpiku diatas kasur. Tanpa kuiyakan, kaki otomatis melangkah mengambil uang diatas televisi dan pergi ke warung. Tak perlu disuruh lagi, aku langsung mengerjakan tugas yang sudah biasa aku lakukan. Membuat es lilin dan Sagon yang esoknya harus aku jajakan di sekolah.
*Keesokannya di sekolah
Seperti biasa saat bel istirahat berbunyi, meskipun sudah terbiasa berjualan, aku masih malu untuk bersorak mempromosikan daganganku. Tapi ada satu hal yang aku lakukan yaitu membisiki teman sebangku kalau hari ini aku membawa jajanan, akhirnya seperti biasa dia orang pertama yang selalu membeli sagonku dan kemudian dia lah yang bantu memanggil teman-teman untuk juga ikut membeli. 500 perak yang aku dapatkan dari setiap bungkus yang dibeli, akhirnya habis juga dan bisa istirahat duduk tenang karena aku jarang sekali pergi ke kantin untuk sekedar membasahi tenggorokan kecuali ada teman yang mengajak.
"Kala, dah abes kan sagon kau? Nak ikot ke kantin ke tadak?" (Kala, sagunmu sudah habis kan? Apa mau ikut ke kantin?) Ajak salah satu kawan sekelas yang langsung aku iyakan dengan anggukan karena sudah kering sekali rasanya tenggorokan.
*Sepulang dari kantin
Mungkin karena merasa tidak memiliki siapa-siapa, apapun yang terjadi di kehidupanku rasanya datar saja tanpa berani berekspresi sesuai keadaan yang terjadi. Aku berlari ke arah meja tempatku duduk dan ku rogoh tas dalam dan lama sekali sampai akhirnya tangisku pecah tak terbendung, teman-teman yang kebingungan berusaha menenangkan dan menanyai penyebab pecahnya tangisku langsung memanggil wali kelas dan barulah aku berani bicara bahwa uang hasil jualanku semuanya hilang, bahkan beserta dengan dompetnya. Guru yang melihat keadaan kelas yang semakin ribut karena pernyataanku pun langsung memerintah untuk diam dan duduk di tempat masing-masing dan terjadilah penggeledahan. Tak begitu lama, dompetku ditemukan kosong di saku celana milik salah satu pria teman sekelasku. Dia meminta maaf sejadi-jadinya dan berjanji akan mengembalikan semua uangnya barulah aku sedikit merasa tenang. Keadaan kelas kembali sunyi, pelajaran dimulai kembali. Berlanjut keesokan harinya, berharap dia mengembalikan uang yang dia curi, ternyata ledekan yang aku dapatkan. "Sagon Sagon" ucapnya memekik kencang. "heh Sagon, jangan berharap uangnya akan aku ganti. Siapa suruh jualan di sekolah?"
Bersambung......