BEGITU MESTERI
oleh: A.R
Seakan tiada kata lagi untuk kuucapkan
Renta kukuatanku hingga merasuk angan
Yang ada hanya senyum dalam pejam mataku
Entah itu siapa, aku tak tahu
Seringkali rindu menyusup dalam kalbu
Tapi entah dia siapa
Mungkin hanya sebuah ilusi,
Sekedar mimpi seolah nyata
Apa yang dapat aku lakukan?
Sedang menyapanya aku tak bisa
Hanya gelisah yang meronta merana
Apa yang dapat aku lakukan?
Sedang menatapnya aku tak mampu
Hanya dalam kesendirian aku berseru
Salahkah bila kumiliki segenggam perasaan?
Huh, biarlah kukubur rasa ini, lalu menjadi tempat perziarahan
Dan biarkan semua menabur bunga-bunga bahagia
Dengan puja-puja cinta, atau seutas doa
Namun mengertikah mereka
Tahukah bahwa cinta sejati tak akan pernah mati
Ia tak terbatas ruang dan waktu, tak terlihat oleh penglihatan mata
Ya, semua hanya bisa merasakan dengan nurani
Bahkan angan, terkadang tak mampu memahami apa itu cinta
Sungguh begitu mesteri adanya
Hanya suatu ungkapan
Namun begitu sulit, tak bisa terlukiskan
Hati ini menangis
Sungguh semakin membengis
Hanya dapat kurasa
Tanpa bisa berbuat apa
Kini bimbang membelai begitu mesra
Jangan-jangan tiada kebahagiaan cinta di dunia
Yang ada hanya harapan
Kelak tak akan ada lagi kesengsaraan
Sebab yang kumiliki satu
Dalam harapanku
Hanya kamu
Dalam kebahagiaanku
13 Januari 2018.
Sabtu, 13 Januari 2018
Jumat, 12 Januari 2018
PuisiKaryaKu "BangsakuBangunlah"
"BANGSAKU BANGUNLAH"
Wahai.... Sang pemuda penerus bangsa!
Dengan niatan apa engkau hadir dimasaku?
Cukuplah dulu kita melihat pertumpahan darah.
Cukup dahulu kita menjajah dan terjajah!
Jangan, jangan lagi!
Jangan lagi kau mulai permusuhan dan perdebatan.
Jangan kau hancurkan jiwa anak bangsa.
Jangan!!
Aku takut mendengar ledakan senjata milikmu!
Aku takut, debu-debu masa lalu yang suram itu akan terulang kembali!
Ku pastikan, bahwa kutakkan bisa melihat indahnya mentari esok pagi...
Wahai pemuda...
Biarkan dunia ini beristirahat sejenak.
Hanya sejenak....
Jangan kau ganggu ketenangannya!
Mulailah hadir kembali dengan membawa segudang kedamaian.
Juga sertakan senyuman indah dari sudut bibirmu!
Tak sepantasnya kita saling menjajah!
Kita satu! Kita adalah satu!
Berpegang teguhlah pada satu tujuan.
Ciptakan kedamaian, agar dapat meraih tujuan yang satu padu...
Dariku, suara anak Bangsa..
Aceh, 14 Desember 2017
Wahai.... Sang pemuda penerus bangsa!
Dengan niatan apa engkau hadir dimasaku?
Cukuplah dulu kita melihat pertumpahan darah.
Cukup dahulu kita menjajah dan terjajah!
Jangan, jangan lagi!
Jangan lagi kau mulai permusuhan dan perdebatan.
Jangan kau hancurkan jiwa anak bangsa.
Jangan!!
Aku takut mendengar ledakan senjata milikmu!
Aku takut, debu-debu masa lalu yang suram itu akan terulang kembali!
Ku pastikan, bahwa kutakkan bisa melihat indahnya mentari esok pagi...
Wahai pemuda...
Biarkan dunia ini beristirahat sejenak.
Hanya sejenak....
Jangan kau ganggu ketenangannya!
Mulailah hadir kembali dengan membawa segudang kedamaian.
Juga sertakan senyuman indah dari sudut bibirmu!
Tak sepantasnya kita saling menjajah!
Kita satu! Kita adalah satu!
Berpegang teguhlah pada satu tujuan.
Ciptakan kedamaian, agar dapat meraih tujuan yang satu padu...
Dariku, suara anak Bangsa..
Aceh, 14 Desember 2017
Kamis, 11 Januari 2018
Puisi dari sumenep "Khairul Anam"
PENUH GELOMBANG
Khairul Anam
Hidup ini bagai di tengah lautan
Penuh gelombang dan hantaman-hantaman
Terkadang tenang
Terkadang ombak datang menerjang
Sedang yang terlihat hanya pasir pantai
Dan angan berharap lekas menepi
Tapi seperti inilah adanya
Aku berlayar tanpa bahtera
Akan kemanakah diri ini pergi?
Aku tak sedikit pun mengerti
Seolah hanya mengikuti ombang-ambing tak beraturan
Tak tentu arah, tak bisa kuikuti sepenuhnya isyarat angin
Oh Tuhan, kapankah aku sampai pada tepi pantai sana?
Seperti dia, mereka dan semua
Yang kini lincah berpijak di atas pasirnya
Dan melukis, serta mengukir bahagia
Bila di antara semua berawal dari sepertiku
Tak hanya gelombang lembut yang menggiringnya
Maka dahsyatkanlah terjangan ombak dengan kemesraan badai-Mu
Sanyangilah aku sperti mereka!
Tegakah Engkau membiarkan aku terapung-apung di atas ketidak-berdayaan?
Aku ingin keselamatan
Aku ingin kebahagiaan
Hanya Engkau yang bisa memberikan
Jangan biarkan aku tenggelam
Tertusuk tajam yang begitu dalam
Jangan biarkan aku tenggelam
Karena tanpa cahaya teramat kelam
Surabaya, 06 Januari 2018.
Khairul Anam
Hidup ini bagai di tengah lautan
Penuh gelombang dan hantaman-hantaman
Terkadang tenang
Terkadang ombak datang menerjang
Sedang yang terlihat hanya pasir pantai
Dan angan berharap lekas menepi
Tapi seperti inilah adanya
Aku berlayar tanpa bahtera
Akan kemanakah diri ini pergi?
Aku tak sedikit pun mengerti
Seolah hanya mengikuti ombang-ambing tak beraturan
Tak tentu arah, tak bisa kuikuti sepenuhnya isyarat angin
Oh Tuhan, kapankah aku sampai pada tepi pantai sana?
Seperti dia, mereka dan semua
Yang kini lincah berpijak di atas pasirnya
Dan melukis, serta mengukir bahagia
Bila di antara semua berawal dari sepertiku
Tak hanya gelombang lembut yang menggiringnya
Maka dahsyatkanlah terjangan ombak dengan kemesraan badai-Mu
Sanyangilah aku sperti mereka!
Tegakah Engkau membiarkan aku terapung-apung di atas ketidak-berdayaan?
Aku ingin keselamatan
Aku ingin kebahagiaan
Hanya Engkau yang bisa memberikan
Jangan biarkan aku tenggelam
Tertusuk tajam yang begitu dalam
Jangan biarkan aku tenggelam
Karena tanpa cahaya teramat kelam
Surabaya, 06 Januari 2018.
Rabu, 10 Januari 2018
Puisi dari Sumenep "Khairul Anam"
DIAM DALAM KESENDIRIAN
Oleh: Khairul Anam
Biarkan aku mencintaimu dalam diam
Karena dalam diam tiada penolakan ataupun dendam
Biarkan aku memilihmu dalam diam
Karena di dalamnya tiada yang tega dan begitu kejam
Izinkan aku mencintaimu dalam kesendirian
Karena dalam kesendirian tiada berontak dan cemoohan
Izinkan aku memilihmu dalam kesendirianku
Karena di dalamnya tiada yang bisa memilikimu kecuali aku
Biarkan aku mengagumimu dari jauh
Karena luka tak kan mampu terarah
Izinkan aku mengagumimu dari jauh
Karena tiada yang tahu ketika resah
Izinkan memelukmu dalam anganku
Karena itu lebih indah dari parasmu
Biarkan aku memelukmu dalam mimpi
Karena mimpi tak kan kujumpai tepi
Surabaya, 27 Desember 2017
Oleh: Khairul Anam
Biarkan aku mencintaimu dalam diam
Karena dalam diam tiada penolakan ataupun dendam
Biarkan aku memilihmu dalam diam
Karena di dalamnya tiada yang tega dan begitu kejam
Izinkan aku mencintaimu dalam kesendirian
Karena dalam kesendirian tiada berontak dan cemoohan
Izinkan aku memilihmu dalam kesendirianku
Karena di dalamnya tiada yang bisa memilikimu kecuali aku
Biarkan aku mengagumimu dari jauh
Karena luka tak kan mampu terarah
Izinkan aku mengagumimu dari jauh
Karena tiada yang tahu ketika resah
Izinkan memelukmu dalam anganku
Karena itu lebih indah dari parasmu
Biarkan aku memelukmu dalam mimpi
Karena mimpi tak kan kujumpai tepi
Surabaya, 27 Desember 2017
PuisiKaryaKu "SuperheroZamanDulu"
Superhero jaman doeloe
Oleh: Risca Nanda Fontia
Di tengah gelapnya malam,
Kau hadir bak rembulan.
Di tengah kesunyian,
Kau hadir bak petir yang menggelegar.
Semangatmu berkobar Layaknya api yang lahap memangsa.
Kau kobarkan semangat jiwa demi bangsa dan negara.
Kecacatanmu tertutupi oleh kemantapan jiwa dan kepekaan naluri.
Kau pemimpin tanpa mata, Tapi mata hatimu menjadi pemeran utama.
Kau manusia yang tak kenal tidur lelap,
Kau manusia yang tak peduli istirahat enak.
Karibmu adalah aku,
Aku si pembawa masalah yang selalu menghantui tenang mu,
Yang merasuki lelapmu.
Kau pantang menyerah, Demi persatuan bangsa indonesia.
Gus, kau ibarat lem super,
Yang dapat merekatkan kembali perpecahan yang terjadi.
Kau menjadi payung saat rakyatmu dilanda musibah.
Kau pantas mendapat julukan superhero jaman doeloe
Karena kau berperasaan tanpa melihat,
Kau membantu tanpa imbalan,
Kau mendukung tanpa memihak.
Gusdur, melihat tanpa mata, tapi dengan hati
Biodata penulis:
Nama. : Risca nanda fontia
T/t/l. : pontianak 13 may 1999
Alamat. : Aceh utara kecamatan syamtalira aron simpang mulieng
Status. : mahasiswi iain lhokseumawe
Pekerjaan. : berdagang online
Hobi. : menulis dan membaca
Cita-cita. : penulis dan pemilik toko
Motto. : terus bangkit meski sering terjatuh dan dijatuhkan
Story. : saya Risca nanda fontia, nama panggilan Risca
Saya terlahir di kota pontianak dan sebagai anak pertama dari empat bersaudara, saya kuliah jurusan fkip bahasa inggris semester satu, hobby saya adalah menulis! Karna dengan menulis, saya dapat mengeluarkan beban pikiran dan akan menjadi sebuah karya yang dapat dibaca banyak orang. Saya juga mulai suka menulis sejak sd. Dan menulis telah menjadi makanan sehari hari saya
Oleh: Risca Nanda Fontia
Di tengah gelapnya malam,
Kau hadir bak rembulan.
Di tengah kesunyian,
Kau hadir bak petir yang menggelegar.
Semangatmu berkobar Layaknya api yang lahap memangsa.
Kau kobarkan semangat jiwa demi bangsa dan negara.
Kecacatanmu tertutupi oleh kemantapan jiwa dan kepekaan naluri.
Kau pemimpin tanpa mata, Tapi mata hatimu menjadi pemeran utama.
Kau manusia yang tak kenal tidur lelap,
Kau manusia yang tak peduli istirahat enak.
Karibmu adalah aku,
Aku si pembawa masalah yang selalu menghantui tenang mu,
Yang merasuki lelapmu.
Kau pantang menyerah, Demi persatuan bangsa indonesia.
Gus, kau ibarat lem super,
Yang dapat merekatkan kembali perpecahan yang terjadi.
Kau menjadi payung saat rakyatmu dilanda musibah.
Kau pantas mendapat julukan superhero jaman doeloe
Karena kau berperasaan tanpa melihat,
Kau membantu tanpa imbalan,
Kau mendukung tanpa memihak.
Gusdur, melihat tanpa mata, tapi dengan hati
Biodata penulis:
Nama. : Risca nanda fontia
T/t/l. : pontianak 13 may 1999
Alamat. : Aceh utara kecamatan syamtalira aron simpang mulieng
Status. : mahasiswi iain lhokseumawe
Pekerjaan. : berdagang online
Hobi. : menulis dan membaca
Cita-cita. : penulis dan pemilik toko
Motto. : terus bangkit meski sering terjatuh dan dijatuhkan
Story. : saya Risca nanda fontia, nama panggilan Risca
Saya terlahir di kota pontianak dan sebagai anak pertama dari empat bersaudara, saya kuliah jurusan fkip bahasa inggris semester satu, hobby saya adalah menulis! Karna dengan menulis, saya dapat mengeluarkan beban pikiran dan akan menjadi sebuah karya yang dapat dibaca banyak orang. Saya juga mulai suka menulis sejak sd. Dan menulis telah menjadi makanan sehari hari saya
Puisi Taubat
~°~ PENGAMPUNAN ~°~
Oleh: Risca Nanda Fontia
Meluap, membendung sebuah samudera
Dimana masa ditelan kelam,
Dan menetas, membentuk sebuah dosa.
Tatapan liar membalut duniaku, dan semakin merajalela.
Inginku rontokkan keangkuhan yang mengeram suram,
Dan menjadi seorang insan, layaknya rembulan bersinar terang.
Syahadat,
Kalimah penuh kesyahduan, langkah nan kenikmatan
Kaupenuhi mahligai percintaan antara keduanya.
Syahadat-Mu
bertajuk kesempurnaan sebagai awal pertahanan,
Menuju nestapa kebahagiaan.
Diantara kendati yang menyelubungi gelora tak tergoyahkan.
Kuucap nan kusimpan sebuah kerinduan dalam rongga terdalam.
Rasa yang sungguh mencekam, tak ingin kembali terjatuh.
Kuucap berkali kali, sebelum raga menggelepar diatas tanah.
Kutahu, Tuhan takkan menerima taubat dari orang yang meninggal,
Sedang mereka didalam kekafiran.
Kubangkit dari keterpurukan, karena kupercaya,
Tuhan kan menunjukkan jalan yang lurus bagi hambanya yang ingin
BERTAUBAT
Aceh, 01 Januari 2018
Biodata penulis:
Nama pena. :Fontiastories
Tempat lahir : Pontianak Kalimantan Barat
Alamat. : Simpang Mulieng Kecamatan Syamtalira Aron Aceh Utara
Status :Mahasiswi di Universitas Iain Lhokseumawe Aceh Utara
Cp : Wa 085296857460
Selasa, 09 Januari 2018
Puisi untuk Ibu
"Kuukir namamu"
Oleh: Fontiastories
Dikala senja, ku duduk berpangku kesunyian.
Ku lihat ke arah sudut yang diterangi sebuah pelita tak bernyawa berada seorang wanita tua yang membawa beban di perutnya.
Ia terbaring beralaskan anyaman tikar, wajahnya terlihat teduh seraya mengelus lembut beban yang ditanggungnya.
Hati ini meringis merasakan sakit dan haru.
Bagaimana bisa terlelap jika harus menanggung buntelan besar di tubuhnya.
Tanpa kusadari setetes air mata dosa mulai membasahi pipi dan berakhir di sudut bibir.
Penuh sudah raga ini akan dosa pada nya.
Seringkali ku buat air matanya jatuh berderai.
Padahal, berkat jiwa kasih sayangnya lah para generasi terus berdatangan.
Berkat tangannya lah banyak orang dapat meraih mimpi dan sebuah angan.
Ibu, satu kata beribu makna yang kan ku ukir sejarahnya.
Yang ku kenang pengorbanannya.
Teruslah menjadi ibu kami yang senantiasa membimbing kami dengan doa-doa mustajab mu.....
Aceh, 19 Desember 2017
Assalamualaikum, perkenalkan saya penulis di blog ini, saya menulis beberapa karangan, dimulai dari fiksi maupun nonfiksi. Puisi diatas pernah memenangkan juara dua lomba menulis puisi dalam memperingati hari ibu. Jika ada keperluan, bisa hubungi saya melalui cp dibawah
Wa: 085296857460
Line: 085296857460
See you, salam literasi :)
Oleh: Fontiastories
Dikala senja, ku duduk berpangku kesunyian.
Ku lihat ke arah sudut yang diterangi sebuah pelita tak bernyawa berada seorang wanita tua yang membawa beban di perutnya.
Ia terbaring beralaskan anyaman tikar, wajahnya terlihat teduh seraya mengelus lembut beban yang ditanggungnya.
Hati ini meringis merasakan sakit dan haru.
Bagaimana bisa terlelap jika harus menanggung buntelan besar di tubuhnya.
Tanpa kusadari setetes air mata dosa mulai membasahi pipi dan berakhir di sudut bibir.
Penuh sudah raga ini akan dosa pada nya.
Seringkali ku buat air matanya jatuh berderai.
Padahal, berkat jiwa kasih sayangnya lah para generasi terus berdatangan.
Berkat tangannya lah banyak orang dapat meraih mimpi dan sebuah angan.
Ibu, satu kata beribu makna yang kan ku ukir sejarahnya.
Yang ku kenang pengorbanannya.
Teruslah menjadi ibu kami yang senantiasa membimbing kami dengan doa-doa mustajab mu.....
Aceh, 19 Desember 2017
Assalamualaikum, perkenalkan saya penulis di blog ini, saya menulis beberapa karangan, dimulai dari fiksi maupun nonfiksi. Puisi diatas pernah memenangkan juara dua lomba menulis puisi dalam memperingati hari ibu. Jika ada keperluan, bisa hubungi saya melalui cp dibawah
Wa: 085296857460
Line: 085296857460
See you, salam literasi :)
Langganan:
Komentar (Atom)
Kisah Nyata "Terbitlah Kala"
Bahagia? Sebuah mimpi yang sedang aku usahakan 14 tahun silam untuk menjadi sebuah nyata. Sebut saja namaku kala, kelas 5 SD pahitnya hidup ...
-
ARLOJI KEMATIAN Oleh: Risca Nanda Fontia Ketika detik tak lagi berdetak, Raga menggulung diri di ranjang renta. Kerap terdengar riuh ig...
-
PENUH GELOMBANG Khairul Anam Hidup ini bagai di tengah lautan Penuh gelombang dan hantaman-h...
-
Superhero jaman doeloe Oleh: Risca Nanda Fontia Di tengah gelapnya malam, Kau hadir bak rembulan. ...