Jumat, 27 Oktober 2017

CerpenKu "TheLastAnnive"

                      The last annive
                   Risca Nanda Fontia

       Cerita ini diangkat dari sebuah kisah kami, yaitu aku dan dia. Namaku Rara, dan aku mempunyai seorang kekasih atau pacar yang bernama Rezky.
Hari ini adalah hari anniversarry hubungan aku dengan Rezky yang ke 4 tahun, tapi tidak seperti tahun tahun yang lalu, tepat waktu sekali dia ngucapin selamat hari jadian, tapi sekarang tak ada kabar satu pun dari dia. Aku juga sudah berusaha beberapa kali untuk menghubunginya, tapi tak ada respon apapun.
         Kini tepat jam 12.00 siang, seperti biasa aku dan teman teman relawan yang lainnya meminta sumbangan di jalan-jalan raya, guna untuk membantu dana warga yang terkena musibah. Hingga ketika jarum jam menunjukkan ke pukul 13.30, pada saat kami sedang beristirahat di bawah pohon, terdengar suara yang lumayan besar, dan tak jauh dari situ. Karena rasa penasaran, aku langsung beranjak dari tempat duduk di bawah pondok tersebut dan berlari menuju ke tempat kejadian tersebut, sangat ramai orang yang berkumpul disana, dan ketika aku melihat siapa korban kecelakaan tersebut, ternyata ia adalah Rezky. Seketika itu aku berteriak dengan rasa gemetar tak karuan. "Rezky, rez bangun rez! Kamu jangan tutup mata, aku ngak mau kalau kamu ninggalin aku, aku sayang banget sama kamu, ayo bangun! Ini hari istimewa kita loh, ngak lucu tau ngak kalau kamu sampai ngak selamat, please aku mohon bangun rez!"
       Dengan bercucuran banyak darah, aku pun menggenggam tangan rezky, dan dengan kencang agar dia tak pergi ninggalin aku. Tapi suasana seketika berubah, pada saat Rezky bangun dan malah tertawa dengan kencang. Aku yang melihat tingkah aneh Rezky, hanya bisa duduk berlutut dan diam, karena aku sangat merasa bingung dengan apa yang aku lihat sekarang. Dan Rezky pun berkata " hahahaha, sayang ku Rara.... Maafin aku ya sayang, aku tadi cuma bercanda kok. Dan ya satu lagi, happy anniversarry to four years ya sayang," (sambil menggenggam tangan, dan mengecup keningku). Tanpa bicara lagi, aku beranjak dan langsung pergi dari tempat itu. Rasa kecewa, marah, kesal, semua bercampur aduk menjadi satu. Dan ketika aku ingin melangkahkan kakiku untuk kesekian kalinya, tiba tiba ada yang menarik tanganku dari belakang, dan ketika ku balikkan badan, ternyata yang menarik tanganku adalah Rezky, dia menatapku dengan berlinang air mata dan berkata, " Rara, aku minta maaf! Aku tau caraku membuat kamu terkejut itu sangatlah konyol, tapi tolong maafin aku, aku sayang banget sama kamu ra, please maafin aku!" (Sambil meneteskan setitik air mata). Akupun tak tega melihatnya mohon mohon seperti itu, jadi aku usap air matanya, dan aku tak tau apa yang mau aku katakan selain "iya". Dia pun tersenyum dan terlihat begitu bahagia sembari mengeluarkan sebuah kotak kecil bewarna merah dari balik jaket nya, dan diberikan kepadaku sebagai hadiah anniversarry. Dan ketika kotak itu dibuka, aku spontan dan terkejut ketika melihat cincin bewarna putih yang sangat indah, dengan di taburi beberapa kristal yang amat menyilaukan mata, dan pasti saja aku tutup lagi kotak tersebut, dan aku kembalikan kepada Rezky, karena aku pikir jika aku tidak pantas untuk menerima hadiah semewah dan semahal itu. " maaf sayang, aku ngak bisa nerima hadiah dari kamu, karena aku tau bahwa cincin itu pasti harganya sangat mahal, ngak! Aku ngak bisa nerima itu!" "sayang, please dong! Jangan seperti ini, cincin ini aku beliin hanya khusus untuk kamu, setengah tahun loh aku nabung ngumpulin uang buat beli ini untuk kamu, dan aku sengaja ngak minta uang dari orang tuaku untuk beli ini, karena apa? Aku ingin membahagiakan kamu dengan usaha dari aku sendiri, dan tanpa adanya campur tangan orang lain, meskipun itu orang tuaku sendiri! Dan aku mau, kamu ambil cincin ini sebagai tanda, tanda kalau kamu itu milikku! Dan aku mau, kamu mendampingi aku selama perjalanan, hingga maut menjemputku nanti! Dan Rara criesya putri, maukah kau menjadi wanita yang halal untukku? ".
     Suasana seketika menjadi hening, aku berfikir cukup lama, apakah aku akan menerima atau malah menolaknya! Karena aku takut, jika setelah menikah nanti, perilaku Rezky terhadap ku menjadi berubah! Dan setelah beberapa menit aku berfikir, dan akhirnya aku temukan jawaban dari pertanyaan Rezky. " eummm Rezky, sebelumnya terima kasih atas semua waktu yang selalu kau luangkan untuk aku, dan sudah empat tahun lamanya kita menjalin cinta di luar ikatan pernikahan, dan kini kau mau menghalalkanku dan menjadikan ku sebagai istri mu, dan sangat tidak mungkin aku menolaknya! Dan iya, aku mau jadi pendamping hidup kamu sampai maut memisahkan." (seraya tersenyum tipis). Dengan hati gembira, Rezky berlarian kesana kemari, dan loncat sana sini sebagai pengekspresian diri bahwa dia sangat bahagia dan senang. Dan sampai akhirnya,,, "Brruukkk" aku tercengang dan kaget ketika malihat Rezky yang tertabrak oleh truk, tetapi aku tidak sepanik ketika yang pertama dia pura-pura tertabrak, karena aku pikir dia ingin mengerjaiku untuk kedua kalinya, kemudian aku berjalan santai dan perlahan kemudian berlutut disampingnya seraya berbisik. "Sayang, udah basi tau! Cukup donk sandiwara nya, liat tuh! Disini ramai banget orangnya, kamu ngak malu? Ayo bangun sekarang!"  tetapi Rezky tak bergerak sedikitpun. Kemudian kepanikan pun mulai menghujam hatiku ketika itu, dan seketika aku mencium bau darah yang amis. Dan ketika itu, Rezky sadar dan memberikan cincin kepadaku, sembari berkata " sayang, tolong pakai dan jaga cincin ini sebaik mungkin! Dan aku mohon jangan pernah lepaskan! " (dengan gemetar dan suara terputus putus) kemudian dengan isak tangis, akupun menjawab dengan suara pelan dan sedikit bergetar. " iya Rez, pasti akan aku pakai dan jaga pemberian kamu ini, tapi kamu ngak apa apa kan? Kamu ngak akan pergi ninggalin aku? Kamu juga ngak akan pergi sendiri kan?, jawab Rez, jawab! (Dengan suara sedikit memekik) " dengan suara terputus putus, Rezky pun menjawab " enggak sayang, aku gak a pa apa, a ku gak a kan per gi jauh dari kamu! Aku kan say yang banget sama kamu, dan aku juga gak mau kalau per gi sendiri! Aku maunya nanti kita pergi berdua Ra ......." (dan seketika suara Rezky melemah dan akhirnya kembali tak sadarkan diri, sampai kemudian ambulance datang untuk membawa Rezky ke rumah sakit.
Setibanya dirumah sakit.
(Ruang operasi)
     Setelah tiga jam berada di ruang operasi, dokter yang menangani Rezky pun keluar dari ruang tersebut kemudian menjumpai aku dan ibunya Rezky yang menunggu di ruang tunggu, tepatnya di depan ruang operasi. " syukurlah operasi pada tulang tengkorak belakang Rezky telah aman untuk saat ini, tapi saya mohon maaf buk! Karena kemungkinan besar, Rezky akan kita operasi untuk kedua kalinya, karena kedua ginjal Rezky telah rusak parah buk! Dan kabar buruk selanjutnya, dirumah sakit ini tidak ada stok ginjalnya buk, dan mau tidak mau kita harus menemukan orang yang mau mendonorkan ginjalnya untuk Rezky anak ibu! Heu... (Suara hela nafas), baik buk saya permisi sebentar, jika ibu sudah menemukan orang yang mau mendonorkan ginjalnya untuk Rezky, ibuk bisa langsung temui saya" kemudian terdengar isak tangis yang tertahan
     Beberapa saat kemudian, ibu Rezky berbicara kepada bahwa ia ingin mendonorkan ginjalnya untuk Rezky, tetapi aku melarangnya karena kondisi ibunya Rezky yang sudah tua dan tak sehat lagi, dan mungkin dia melakukan operasi ginjal untuk Rezky.
" Buk, saya permisi sebentar! " (pintaku pada ibunya Rezky). Ibu Rezky hanya mengangguk pelan dengan sedikit senyuman di bibir nya. Dan langsung saja aku melangkahkan kaki menuju ruang dokter ahli bedah yang menangani Rezky. Walau pelan dan penuh keraguan, tapi aku harus tetap maju untuk memantapkan niat ku menolong Rezky, karena aku tak tega melihat kondisi ibunya Rezky yang sangat terpukul ketika melihat kondisi anaknya.
*Sesampainya di depan ruang dokter
(Tok tok tok) ku ketuk pintu dengan sedikit pelan. Dan terdengar suara yang tegas dan sedikit nge bass dari dalam ruangan itu. "Iya silahkan masuk" kemudian ku buka pintu dengan perlahan dan masuk kedalam ruang itu. "Oh mbak Rara, silahkan duduk mbak!" ketika dipersilahkan untuk duduk, aku langsung membuka pembicaraan. "Saya siap menjadi pendonor ginjal untuk Rezky dok!." (terdengar suara hela nafas dokter) "baik, sekarang kamu ikut saya, untuk meriksa apakah ginjal kamu cocok atau tidak." aku hanya mengangguk pelan.
Usai pemeriksaan, dan ternyata ginjalku cocok, akhirnya aku bersiap siap untuk di operasi.
*Setelah operasi
Rezky mulai menggerakkan tangannya sedikit demi sedikit dan diiringi dengan kedipan mata yang berusaha untuk membuka matanya. Dan setelah ia sadar, orang pertama yang ia cari adalah aku, bagaimana tidak? Kami telah bersama selama empat tahun.
"Buk, dimana Rara? Aku mau ketemu sama rara, aku kangen banget sama dia (sembari menghela nafas dan tersenyum ringan) kayak udah lama banget aku ngak ketemu sama dia buk!"
Nak, kamu baru aja selesai operasi! Kamu jangan terlalu banyak gerak gerak dulu!"
"Ngak buk, aku ngak mau! Aku maunya ketemu Rara sekarang juga! Titik.!!"
Dengan menahan rasa sakit, Rezky bangun dan berjalan mencari dimana aku berada.
"Nak, ayo ibu bantu kamu! Rara ada di kamar 004." sambil mendorong kursi roda Rezky yang tak sanggup jalan jalan sendiri.
"Kamar 004? Ngapain dia disitu buk? Ohhh aku tau, pasti dia mau kasih Rezky kejutan kan buk? Iya kan? (Tersenyum sejenak) dasar Rara, ngak habis habis kejutannya. (Setengah tertawa ringan)"
Setelah sampai tepat di depan kamar 004, tanpa sabar Rezky langsung membuka pintu kamar nya. Dan seketika ia merasa bingung dan kaget.
"Buk? Kita salah kamar ya? Kok ngak ada Rara? Yaudah buk kita keluar aja, kasian orang sedang tertidur sakit itu! Ntar kita ganggu lagi" pinta Rezky pada ibunya. Tetapi ibu Rezky sama sekali tidak mengubris perkataan Rezky, dan ia langsung saja mendorong kursi roda Rezky semakin dalam ke kamar tersebut. Dan ketika tepat di samping ranjang, Rezky terperanjak kaget ketika melihat sosok wanita yang tertidur di ranjang rumah sakit itu adalah kekasihnya Rara. Dengan spontan, Rezky menggenggam tanganku dengan sangat erat, seolah olah menahanku agar tidak pergi.
"Buk, tolong jelasin ke Rezky buk, kenapa Rara terbaring lemah disini? (Dengan nada pelan dan lemah) sedangkan sebelum aku di larikan kerumah sakit, aku masih melihatnya dalam keadaan yang baik baik saja! Jadi kenapa dengan waktu singkat, semua berubah? Ada apa ini buk?" (mulai menaikkan suaranya)
"Maafin ibu nak, ibu ngak bisa apa apa! Ibu ngak tau kalau Rara yang udah donorin ginjalnya buat kamu! Dan ibu mengetahui semuanya ketika kondisinya semakin melemah, dan dokter yang menceritakan semuanya"
Dengan deraian air mata, Rezky menunduk sambil memegang tangan Rara dan menangis sejadi jadinya. Kemudian ia tiba tiba menghentikan tangisannya ketika ia merasa denyut nadi di tangan Rara sudah berhenti berdenyut, begitu pula dengan detak jantungnya. Rezky merasa sangat terpukul, karena dirinya lah Rara menjadi meninggal dan pergi untuk selamanya dari kehidupan Rezky. Dengan tangisan yang tak tertahan lagi, ia kembali memegang tangan kekasih nya sembari sesekali ia cium. Ia terus menangis tanpa henti sambil menunduk di samping mayat Rara, dan semakin lama suara tangisan Rezky melemah dan pada akhirnya menghilang. Ibu Rezky yang sejak tadi berada di samping nya, merasa khawatir dan panik! Dan sesaat kemudian dokter datang untuk memeriksa keadaan Rara dan Rezky. Tapi apa boleh buat, dokter menunduk sambil menggelengkan kepalanya sambil berkata "maaf buk, anak ibu dan kekasih nya tidak dapat kami selamatkan, mereka berdua telah di panggil oleh sang kuasa, sekali lagi maaf buk!" (melangkahkan kakinya keluar kamar pasien)
Ibu Rezky berteriak memanggil nama Rezky, yang pada saat itu telah meninggalkan nya seorang diri..
Terbukti, bahwa "cinta" dapat di rasakan oleh siapa pun, kapan pun, bahkan di manapun! Dan kita berhak atas cinta, tetapi jika tuhan telah berkehendak, insan mana yang bisa mengelak. Meskipun telah bersama selama bertahun tahun, tetapi jika tuhan berkehendak mereka tak bisa bersama, maka itulah yang akan terjadi.

Aceh, 13 Juli 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kisah Nyata "Terbitlah Kala"

Bahagia? Sebuah mimpi yang sedang aku usahakan 14 tahun silam untuk menjadi sebuah nyata. Sebut saja namaku kala, kelas 5 SD pahitnya hidup ...