Rabu, 31 Oktober 2018

Puisi untuk Palestina

SENYUM DIBALIK DERITA
Oleh: Risca Nanda Fontia

Kabut pekat menjadi atap,
Debu pembantaian menjadi lantai,
Debuman pistol dan granat menjadi alunan melodi,
Bercak darah menjadi lukisan yang menghiasi dinding palestina,
Isak tangis menjadi selimut.
Semangatnya amat keras laksana batu yang tak retak dihantam ombak,
Tangisan jiwa kecil tersebut, laksana radio tak berantena.
Hatinya berteriak dan menjerit mengharap pertolongan!
Namun, bibir bungkam seribu bahasa.
Senyumnya kecut seumpama menahan rasa yang tak dapat diungkapkan
Dan seolah berkata "kami baik-baik saja"
Bahkan, tiada seorangpun yang dapat menebak sebuah makna yang
Terselip disebalik sunggingan bibir manis itu!
Rumah terata tanah,
Masjid dibumi hanguskan,
Sekolah serta bangunan dibulldozer!
Kaki langit palestina yang dahulu sempurna,
Kini menjadi tempat ritual penyembelihan yang tak luput terjadi setiap hari
Bahkan menit!
Kepala hilang, nyawapun lenyap!
Tidak! Mereka bukan kambing hitam tuk kau sembelih!
Mereka kerabatku! Mereka layak hidup!
Tak kenal muda maupun tua, kau cincang habis tubuhnya!
Tak sedikit yang berlari bagaikan busur terlepas panah,
Tak sedikit pula yang merelakan tubuhnya sobek terkena sayatan pedang.
Sinar mentari memeluk mereka yang sedang bersedih,
Burung bernyanyi dengan niatan mengembalikan senyum yang terindukan.
Saat malam datang, mentari beranjak tidur beristirahat.
Tetapi, jiwa-jiwa itu masih gentayangan mencari pertolongan!
Tak butuh kasur tuk tempat kami terlelap,
Tak butuh uang tuk bereforia, tak perlu kendaraan tuk kami lolos
Menyelamatkan diri!
Cukuplah terbangkan sebuah doa dari satu nyawa,
Tuk kami melawan para pencuri nyawa itu!
Hei kau ban ki moon!
Apa yang kau maksud dengan perserikatan bangsa-bangsa?
Apakah itu hanya sebuah ilusi mimpi yang hanya bualan tuk menjadi nyata?
Apa yang sedang kaulakukan saat ini? Menopang tangan didagu,
Seraya menyaksikan tayangan pembantaian jiwa kecil
Di palestina oleh serdadu zionis?
Bahkan aku tak tahu, dimana kau kuburkan akal, serta hatimu!
Tolong beritahu aku, agar kudapat menggali
Dan membersihkanya dari kotoran.
Hei kau para mahanazi teroris zionis israel!
Mereka seorang bocah, yang tidak tahu apa itu peluru,
Mengapa kau malah memperkenalkan rasa sakitnya tertembak?
Seorang bocah yang mengacungkan satu jari dihadapanmu,
Dengan tega kaupatahkan tulang lembut yang barusaja tumbuh itu.
Hati anak mana yang tak hancur menyaksikan
Bapak mereka dibulldozer? Sedang ibunya diperkosa,
Dan dilempar layaknya baju kotor bekas pakai!
Ini semua bukanlah sebuah karya fiksi dari penulis kondang.
Ini nyata adanya! Disana!
Dijalur gaza,
Tepi barat,
Yerussalem.
Duhai karibku, teruslah sembunyikan derita dibalik senyummu,
Agar para zionis tak melihat deritamu, dan dijadikan sebagai tombak
Kekuatan olehnya.

#SAVEPALESTINE
#SENYUMDIBALIKDERITA

Aceh, 8 Januari 2018

Senin, 29 Oktober 2018

Puisi Kemiskinan

HARAPAN JIWA INSAN
Oleh: Risca Nanda Fontia

Recehan yang terikat menjadi satu, membunyikan rintikan suara gemerincing.
Satu sampai Lima gerbong kau langkahi,
Tetapi hasil tak sesuai harapan! Perjalanan yang mulai melaju
Diatas ranjang jeruji bianglala seakan tak menyurutkan suara!
Jejak langkah mengecap tinta darah, tak menjadi sebuah halang rintang.
Jiwa yang terlanjur menajur harapan,
Akan didorong semangat yang berkobaran.
Meskipun setiap sel membran terpenuhi hujatan dan hinaan.
Langkah kaki yang tak tersurutkan,
Akan menjadi awal sebuah kebahagiaan.
Harapan, tidak akan pernah lenyap!
Ia selalu hadir bak malaikat tak bersayap,
Menyapa setiap hati yang penuh harap,
Berharap harapnya tak dianggap sebagai kurap,
Yang tak terobati, namun hanya diidap.
Harapan, kini semua sudah lengkap!
Berdiri tegap, tak lagi tengkurap.
Hingga semua alasan untuk berharap, menjadi terungkap!

Aceh, 16 Januari 2018

Puisi Tentang Indonesia

PENGHUNI KECIL INDONESIA
Oleh: Risca Nanda Fontia

Merahmu, melambangkan sekepal keberanian,
Putihmu, melambangkan segenggam  kesucian,
Simbolmu, melambangkan perdamaian serta persatuan!
Sumpahmu, melambangkan perjanjian serta ketaatan.
Kau dihuni berjuta-juta sel, yang tak luput mewarnai kawasan.
Seringkali, terlihat pelangi yang berserakan.
Segudang visi misi kau persiapkan demi memboyong kemajuan.
Tak sedikit pula visi misi yang berakhir di ujung kesia-siaan
Tetapi berkat para pejuang bangsa, kau dapat tetap bertahan
Menjadi sebuah NKRI yang satu padu.
Indonesia, sebuah tempat bernaung beribu suku,
Menjadi tempat tidur anak tanpa ayah, serta ibu,
Serta menjadi tempat mengadu nasib bersama pilu.
Indonesia, terlalu banyak sampah serta tikus-tikus berdasi yang mendudukimu. Mengapa tidak kau usir saja mereka?
Jangan biarkan tikus-tikus itu menempati ruang waktumu.
Mereka telah mengotori namamu dengan jari jemari licik itu.
Indonesia, buka matamu! Jangan biarkan mereka mendudukimu.
Jangan biarkan mereka memperlakukanmu sebagai markas persembunyian.
Karena sungguh, keindahanmu akan tercemar oleh jari-jari nakal.
Indonesia, kau memiliki hak, serta wewenang!
Gunakan itu, demi membasmi jutaan hama pengganggu!
Indonesia, aku selalu bersama denganmu! Lawan mereka yang hendak mengotorimu.
Karena kau rumahku, juga hidupku.

#SalamAnakBangsa

Aceh, 24 Januari 2018

Puisi Kesetiaan

JASAD SANG PENUNGGU SETIA
Oleh: Risca Nanda Fontia

Adalah aku sang tembok pembatas angan,
Yang tak larat mendengar juga melihat.
Adalah aku sang pencakar langit,
Yang tak sanggup mengucap rindu.

Ribuan pilar roboh, menimpa jasad beku.
Jasad sang penunggu setia,
Jasad sang pemimpi,
Jasad yang merindu,
Jasad yang bungkam akan rasa yang padu.

Lebih baik aku mati menyusul ibu,
Daripada aku disiksa rindu.
Rindu yang selalu menggebu,
Meronta di dalam kalbu.



Aceh, 28 Maret 2018

Puisi Ibu

Pengabdi Kemajuan Dunia
Oleh: Risca Nanda Fontia

Guratan abstrak di wajah sang pengasih,
Peluh tanpa asa, mengalir tanpa henti
Tersenyum pasrah menahan perih,
Meski raga terasa akan mati.
Sebisa mungkin menahan diri,
Agar tegar menjalani hidup tanpa kekasih.

Wanita, bukan dari tulang ubun ia dicipta.
Karena hanya akan tersanjung bila di puja.
Bukan pula dari tulang kaki,
Karena tidak pantas diinjak serta direndahkan.
Tapi dari tulang rusuk ia dicipta,
Dekat dengan hati dan tangan, karena memang pantas dicintai,
Juga dilindungi.

Tiada yang bisa menandingi kekuatannya dalam kehidupan.
Juga menandingi kasihnya dalam ketulusan.

Wanita, pengabdi kemajuan dunia, bak kemegahan nabastla.


Aceh, 13 Mei 2018

Puisi Perpisahan Sedih

CANDU RINDU BIBIRMU
Oleh: Risca Nanda Fontia

Aku mengenalnya, seorang wanita manis layaknya Bidadari....
Perangai lembutnya; sangat disenangi
Senyum manisnya; akan selalu dirindui
Tatapan teduhnya; sungguh mengilhami.

Telah banyak waktu berlalu, termakan ganas sang waktu.
Beribu suka duka, kita padu menjadi satu.
Meski kini, pahit bak empedu.
Ingatkah? Setiap saat cepat berlalu,
Keluh kesah yang sempat tersampaikan, kau urai perlahan.
Mencari penyelesaian, dalam jalan penuh tikungan.
Entah sedih atau senang, kau hanya melukiskan guratan kebahagiaan...
Keramahanmu membawa nyaman bagi kami untuk tetap tinggal.
YA, tinggal disudut ruang yang sepi!

Tulisan ini, tak mampu lukiskan senyum bibirmu!
Pun bola matamu yang indah bak indah bak dunia penuh warna, bahagia, juga kehidupan.
Bu, sejuta kenangan telah melewati waktu,
Meski pada ujung temu, kita kembali terpisahkan waktu
Yang kini menjadi candu rindu.
Dan apa ibu tau? Dari lubuk terdalam, kami tak ingin apabila kau pergi meninggalkan sepi.
Menyisa sejarah, yang harus kami ziarahi setiap waktu.
Entah bagaimana nasib kami saat kau melangkah jauh kesana,
Mungkin layaknya buih lautan yang tak berguna,
Atau awan-awan yang berserakan.

Kami mandiri, kami tak ingin terus bergantung padamu...
Tapi kau adalah pondasi utama kesuksesan kami,
Kau menempah kami dengan ilmu kedewasaan didalam ketenangan.
Maaf, jika kata-kata ini membuatku durhaka,
Maaf, jika semua ini membuatmu resah,
Maaf, hanya ini yang dapat kami berikan pada hari perpisahan, agar kelak menjadi sebuah ketenangan didalam kenangan.

Aceh, 26 Oktober 2018

Puisi Kematian

ARLOJI KEMATIAN
Oleh: Risca Nanda Fontia

Ketika detik tak lagi berdetak,
Raga menggulung diri di ranjang renta.
Kerap terdengar riuh igaumu sepanjang pekat malam.
Tatapanmu kosong, suram, tak berpenghuni,
Hingga tampak oleh mata, nyawamu melompat-lompat di atas dada.

kurasa, di ketika arloji tak bernyawa,
Sejuk datang menggoda manja,
Di kala kabut malam masih berdiam diri.

Jikalau diizinkan, ingin kudekap gunung menjulang,
Demi terpuaskan hasrat, serta menghangatkan darah dingin.
Ingin kutenun ayat-ayat cinta sepanjang lorong rahasiamu,
Cinta abadi yang tak dapat kuraih bersamanya.

Aku tengkurap, merangkak melata di atas pualam beku,
Tersesat akan lebatnya pepohonan hutan padang panjang,
Serta akar-akar kokoh yang menghalangi jalanku.
Karena setiap harapan yang kugali disana,
Sering menjelma kesuraman yang menggelapkan jalan menuju kebahagiaan.

Aceh, 12 Februari 2018

Puisi Rindu

DAEGI JUNG 
Oleh: Risca Nanda Fontia

Sejuk memecah pilu disaat malam membuta.
Jejak bayang tersapu manisnya kata indah,
Menanti sesosok pujangga cinta
Yang tak kunjung tampak tersapu mata.
Meski dingin terus datang menggoda.
Termanggu,
Berpangku,
Sepi diatas pualam beku.
Terjerat akan bingkai rindu
Yang selalu menuntut bertemu.

Kuharap, penantian tak berujung semu
Hingga kelak kita bersatu.

Disini, terus menanti
Hingga jasad ini, busuk karena mati.


Aceh, 24 April 2018

Kisah Nyata "Terbitlah Kala"

Bahagia? Sebuah mimpi yang sedang aku usahakan 14 tahun silam untuk menjadi sebuah nyata. Sebut saja namaku kala, kelas 5 SD pahitnya hidup ...