Oleh: Risca Nanda Fontia
Kabut pekat menjadi atap,
Debu pembantaian menjadi lantai,
Debuman pistol dan granat menjadi alunan melodi,
Bercak darah menjadi lukisan yang menghiasi dinding palestina,
Isak tangis menjadi selimut.
Semangatnya amat keras laksana batu yang tak retak dihantam ombak,
Tangisan jiwa kecil tersebut, laksana radio tak berantena.
Hatinya berteriak dan menjerit mengharap pertolongan!
Namun, bibir bungkam seribu bahasa.
Senyumnya kecut seumpama menahan rasa yang tak dapat diungkapkan
Dan seolah berkata "kami baik-baik saja"
Bahkan, tiada seorangpun yang dapat menebak sebuah makna yang
Terselip disebalik sunggingan bibir manis itu!
Rumah terata tanah,
Masjid dibumi hanguskan,
Sekolah serta bangunan dibulldozer!
Kaki langit palestina yang dahulu sempurna,
Kini menjadi tempat ritual penyembelihan yang tak luput terjadi setiap hari
Bahkan menit!
Kepala hilang, nyawapun lenyap!
Tidak! Mereka bukan kambing hitam tuk kau sembelih!
Mereka kerabatku! Mereka layak hidup!
Tak kenal muda maupun tua, kau cincang habis tubuhnya!
Tak sedikit yang berlari bagaikan busur terlepas panah,
Tak sedikit pula yang merelakan tubuhnya sobek terkena sayatan pedang.
Sinar mentari memeluk mereka yang sedang bersedih,
Burung bernyanyi dengan niatan mengembalikan senyum yang terindukan.
Saat malam datang, mentari beranjak tidur beristirahat.
Tetapi, jiwa-jiwa itu masih gentayangan mencari pertolongan!
Tak butuh kasur tuk tempat kami terlelap,
Tak butuh uang tuk bereforia, tak perlu kendaraan tuk kami lolos
Menyelamatkan diri!
Cukuplah terbangkan sebuah doa dari satu nyawa,
Tuk kami melawan para pencuri nyawa itu!
Hei kau ban ki moon!
Apa yang kau maksud dengan perserikatan bangsa-bangsa?
Apakah itu hanya sebuah ilusi mimpi yang hanya bualan tuk menjadi nyata?
Apa yang sedang kaulakukan saat ini? Menopang tangan didagu,
Seraya menyaksikan tayangan pembantaian jiwa kecil
Di palestina oleh serdadu zionis?
Bahkan aku tak tahu, dimana kau kuburkan akal, serta hatimu!
Tolong beritahu aku, agar kudapat menggali
Dan membersihkanya dari kotoran.
Hei kau para mahanazi teroris zionis israel!
Mereka seorang bocah, yang tidak tahu apa itu peluru,
Mengapa kau malah memperkenalkan rasa sakitnya tertembak?
Seorang bocah yang mengacungkan satu jari dihadapanmu,
Dengan tega kaupatahkan tulang lembut yang barusaja tumbuh itu.
Hati anak mana yang tak hancur menyaksikan
Bapak mereka dibulldozer? Sedang ibunya diperkosa,
Dan dilempar layaknya baju kotor bekas pakai!
Ini semua bukanlah sebuah karya fiksi dari penulis kondang.
Ini nyata adanya! Disana!
Dijalur gaza,
Tepi barat,
Yerussalem.
Duhai karibku, teruslah sembunyikan derita dibalik senyummu,
Agar para zionis tak melihat deritamu, dan dijadikan sebagai tombak
Kekuatan olehnya.
#SAVEPALESTINE
#SENYUMDIBALIKDERITA
Aceh, 8 Januari 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar