Kamis, 01 November 2018

Puisi tentang Ibu

"KASIH~SAYANG BUNDA"
oleh: Risca Nanda Fontia

Alunan melodi yang beralun dikala malam, Kau senandungkan dengan suara sayup.
Tepukan gendang yang beriring, membuatku kembali menutup mata.
Atap yang bocor, membuat tubuhku basah kedinginan.
Kau kembali menatap dunia buta dikala itu.
Kupu-kupu malam pun, semakin banyak berkeliaran.
Hingga membuatmu terus menatap dunia.
Seiring mengalirnya waktu dan beranjaknya masa,
Kini, aku tak membutuhkanmu untuk menepuk gendang,
Aku tak ingin lagi mendengar alunan melodi,
Bahkan aku bisa membunuh kupu-kupu malam itu dengan tanganku sendiri.
Aku tau, tak peduli kecil atau besar, kau selalu menyayangiku.
Tapi tidak lagi, kini semua telah terbalik. Dahulu kau yang merawatku,
Bergadang hingga fajar menyapa. Kini, biarkan aku yang melakukan semua itu.
Meski, kasih sayang yang kuberi dihari tuamu, tak dapat terbayar sewa lelapmu dulu.
Meski, bercucuran keringat ini demi merawatmu, tak dapat terganti setetes airmatamu
Yang tercurah saat kusakit dikala itu.
Meski, kuberi milyaran rupiah yang kumiliki,
Tak dapat kuluruskan kembali guratan diwajahmu, Karena sungguh lelahnya kau.
Bahkan kasih sayangmu tak serupa dengan apa yang aku miliki di dunia ini.
Terimakasih atas kasih serta sayangmu padaku.

Aceh, 22 Januari 2018

Puisi Taubat

SUJUD PENGGUGUR DOSA
Oleh: Risca Nanda Fontia

Ditengah kelamnya malam,
Kuterjaga dari lelapku, ditemani sebuah lentera tak bernyawa.
Kau tuntun aku menuju singgasana megahmu,
Padahal, betapa indahnya bunga tidur yang kutinggali
Karena teringinku bertemu sang khaliq
Meminta sebuah pengampunan sembari merontokkan keangkuhan yang menjuntai
Kujejali langkah penuh duri, menyusuri berbagai rintangan
Demi tersungkur merendahkan diri dihadapanMu.
Demi mengharap tersurutkan lautan dosa
Kutengadahkan tangan mungil nan lentik ini
Kucurahkan ocehan pengharapan
Kuteteskan butir air mata
Seraya meminta ampun pada-Nya
Aku sadar, jiwa ini terjerat dalam pelukan dosa
Aku sadar,  diri ini telah menyelami lautan tak bertepi
Begitu dalam hingga tersesat begitu jauh.
Ya tuhan, hapuskanlah jejak langkah dosa kami,
Karena kutau, islam adalah agama penuh pengampunan
Islam adalah agama yang adil dan bijaksana
Ampunkanlah diri ini yang terjerat dalam nelangsa penyiksaan,
Tetapkan hati kami, agar selalu memuja dan memuji namaMu


Tentang penulis:
Nama saya Risca nanda fontia,  Saya terlahir di pontianak kalimantan barat, dan sekarang saya tinggal di aceh dan sedang menempuh perkuliahan semester dua di universitas iain lhokseumawe jurusan bahasa inggris.
Hobby saya menulis, karena bagi saya menulis itu adalah hobi yang sangat bermanfaat, terutama bagi diri saya sendiri. Saya juga suka menulis sejak saya smp kelas satu.

Rabu, 31 Oktober 2018

Puisi untuk Palestina

SENYUM DIBALIK DERITA
Oleh: Risca Nanda Fontia

Kabut pekat menjadi atap,
Debu pembantaian menjadi lantai,
Debuman pistol dan granat menjadi alunan melodi,
Bercak darah menjadi lukisan yang menghiasi dinding palestina,
Isak tangis menjadi selimut.
Semangatnya amat keras laksana batu yang tak retak dihantam ombak,
Tangisan jiwa kecil tersebut, laksana radio tak berantena.
Hatinya berteriak dan menjerit mengharap pertolongan!
Namun, bibir bungkam seribu bahasa.
Senyumnya kecut seumpama menahan rasa yang tak dapat diungkapkan
Dan seolah berkata "kami baik-baik saja"
Bahkan, tiada seorangpun yang dapat menebak sebuah makna yang
Terselip disebalik sunggingan bibir manis itu!
Rumah terata tanah,
Masjid dibumi hanguskan,
Sekolah serta bangunan dibulldozer!
Kaki langit palestina yang dahulu sempurna,
Kini menjadi tempat ritual penyembelihan yang tak luput terjadi setiap hari
Bahkan menit!
Kepala hilang, nyawapun lenyap!
Tidak! Mereka bukan kambing hitam tuk kau sembelih!
Mereka kerabatku! Mereka layak hidup!
Tak kenal muda maupun tua, kau cincang habis tubuhnya!
Tak sedikit yang berlari bagaikan busur terlepas panah,
Tak sedikit pula yang merelakan tubuhnya sobek terkena sayatan pedang.
Sinar mentari memeluk mereka yang sedang bersedih,
Burung bernyanyi dengan niatan mengembalikan senyum yang terindukan.
Saat malam datang, mentari beranjak tidur beristirahat.
Tetapi, jiwa-jiwa itu masih gentayangan mencari pertolongan!
Tak butuh kasur tuk tempat kami terlelap,
Tak butuh uang tuk bereforia, tak perlu kendaraan tuk kami lolos
Menyelamatkan diri!
Cukuplah terbangkan sebuah doa dari satu nyawa,
Tuk kami melawan para pencuri nyawa itu!
Hei kau ban ki moon!
Apa yang kau maksud dengan perserikatan bangsa-bangsa?
Apakah itu hanya sebuah ilusi mimpi yang hanya bualan tuk menjadi nyata?
Apa yang sedang kaulakukan saat ini? Menopang tangan didagu,
Seraya menyaksikan tayangan pembantaian jiwa kecil
Di palestina oleh serdadu zionis?
Bahkan aku tak tahu, dimana kau kuburkan akal, serta hatimu!
Tolong beritahu aku, agar kudapat menggali
Dan membersihkanya dari kotoran.
Hei kau para mahanazi teroris zionis israel!
Mereka seorang bocah, yang tidak tahu apa itu peluru,
Mengapa kau malah memperkenalkan rasa sakitnya tertembak?
Seorang bocah yang mengacungkan satu jari dihadapanmu,
Dengan tega kaupatahkan tulang lembut yang barusaja tumbuh itu.
Hati anak mana yang tak hancur menyaksikan
Bapak mereka dibulldozer? Sedang ibunya diperkosa,
Dan dilempar layaknya baju kotor bekas pakai!
Ini semua bukanlah sebuah karya fiksi dari penulis kondang.
Ini nyata adanya! Disana!
Dijalur gaza,
Tepi barat,
Yerussalem.
Duhai karibku, teruslah sembunyikan derita dibalik senyummu,
Agar para zionis tak melihat deritamu, dan dijadikan sebagai tombak
Kekuatan olehnya.

#SAVEPALESTINE
#SENYUMDIBALIKDERITA

Aceh, 8 Januari 2018

Senin, 29 Oktober 2018

Puisi Kemiskinan

HARAPAN JIWA INSAN
Oleh: Risca Nanda Fontia

Recehan yang terikat menjadi satu, membunyikan rintikan suara gemerincing.
Satu sampai Lima gerbong kau langkahi,
Tetapi hasil tak sesuai harapan! Perjalanan yang mulai melaju
Diatas ranjang jeruji bianglala seakan tak menyurutkan suara!
Jejak langkah mengecap tinta darah, tak menjadi sebuah halang rintang.
Jiwa yang terlanjur menajur harapan,
Akan didorong semangat yang berkobaran.
Meskipun setiap sel membran terpenuhi hujatan dan hinaan.
Langkah kaki yang tak tersurutkan,
Akan menjadi awal sebuah kebahagiaan.
Harapan, tidak akan pernah lenyap!
Ia selalu hadir bak malaikat tak bersayap,
Menyapa setiap hati yang penuh harap,
Berharap harapnya tak dianggap sebagai kurap,
Yang tak terobati, namun hanya diidap.
Harapan, kini semua sudah lengkap!
Berdiri tegap, tak lagi tengkurap.
Hingga semua alasan untuk berharap, menjadi terungkap!

Aceh, 16 Januari 2018

Puisi Tentang Indonesia

PENGHUNI KECIL INDONESIA
Oleh: Risca Nanda Fontia

Merahmu, melambangkan sekepal keberanian,
Putihmu, melambangkan segenggam  kesucian,
Simbolmu, melambangkan perdamaian serta persatuan!
Sumpahmu, melambangkan perjanjian serta ketaatan.
Kau dihuni berjuta-juta sel, yang tak luput mewarnai kawasan.
Seringkali, terlihat pelangi yang berserakan.
Segudang visi misi kau persiapkan demi memboyong kemajuan.
Tak sedikit pula visi misi yang berakhir di ujung kesia-siaan
Tetapi berkat para pejuang bangsa, kau dapat tetap bertahan
Menjadi sebuah NKRI yang satu padu.
Indonesia, sebuah tempat bernaung beribu suku,
Menjadi tempat tidur anak tanpa ayah, serta ibu,
Serta menjadi tempat mengadu nasib bersama pilu.
Indonesia, terlalu banyak sampah serta tikus-tikus berdasi yang mendudukimu. Mengapa tidak kau usir saja mereka?
Jangan biarkan tikus-tikus itu menempati ruang waktumu.
Mereka telah mengotori namamu dengan jari jemari licik itu.
Indonesia, buka matamu! Jangan biarkan mereka mendudukimu.
Jangan biarkan mereka memperlakukanmu sebagai markas persembunyian.
Karena sungguh, keindahanmu akan tercemar oleh jari-jari nakal.
Indonesia, kau memiliki hak, serta wewenang!
Gunakan itu, demi membasmi jutaan hama pengganggu!
Indonesia, aku selalu bersama denganmu! Lawan mereka yang hendak mengotorimu.
Karena kau rumahku, juga hidupku.

#SalamAnakBangsa

Aceh, 24 Januari 2018

Puisi Kesetiaan

JASAD SANG PENUNGGU SETIA
Oleh: Risca Nanda Fontia

Adalah aku sang tembok pembatas angan,
Yang tak larat mendengar juga melihat.
Adalah aku sang pencakar langit,
Yang tak sanggup mengucap rindu.

Ribuan pilar roboh, menimpa jasad beku.
Jasad sang penunggu setia,
Jasad sang pemimpi,
Jasad yang merindu,
Jasad yang bungkam akan rasa yang padu.

Lebih baik aku mati menyusul ibu,
Daripada aku disiksa rindu.
Rindu yang selalu menggebu,
Meronta di dalam kalbu.



Aceh, 28 Maret 2018

Puisi Ibu

Pengabdi Kemajuan Dunia
Oleh: Risca Nanda Fontia

Guratan abstrak di wajah sang pengasih,
Peluh tanpa asa, mengalir tanpa henti
Tersenyum pasrah menahan perih,
Meski raga terasa akan mati.
Sebisa mungkin menahan diri,
Agar tegar menjalani hidup tanpa kekasih.

Wanita, bukan dari tulang ubun ia dicipta.
Karena hanya akan tersanjung bila di puja.
Bukan pula dari tulang kaki,
Karena tidak pantas diinjak serta direndahkan.
Tapi dari tulang rusuk ia dicipta,
Dekat dengan hati dan tangan, karena memang pantas dicintai,
Juga dilindungi.

Tiada yang bisa menandingi kekuatannya dalam kehidupan.
Juga menandingi kasihnya dalam ketulusan.

Wanita, pengabdi kemajuan dunia, bak kemegahan nabastla.


Aceh, 13 Mei 2018

Puisi Perpisahan Sedih

CANDU RINDU BIBIRMU
Oleh: Risca Nanda Fontia

Aku mengenalnya, seorang wanita manis layaknya Bidadari....
Perangai lembutnya; sangat disenangi
Senyum manisnya; akan selalu dirindui
Tatapan teduhnya; sungguh mengilhami.

Telah banyak waktu berlalu, termakan ganas sang waktu.
Beribu suka duka, kita padu menjadi satu.
Meski kini, pahit bak empedu.
Ingatkah? Setiap saat cepat berlalu,
Keluh kesah yang sempat tersampaikan, kau urai perlahan.
Mencari penyelesaian, dalam jalan penuh tikungan.
Entah sedih atau senang, kau hanya melukiskan guratan kebahagiaan...
Keramahanmu membawa nyaman bagi kami untuk tetap tinggal.
YA, tinggal disudut ruang yang sepi!

Tulisan ini, tak mampu lukiskan senyum bibirmu!
Pun bola matamu yang indah bak indah bak dunia penuh warna, bahagia, juga kehidupan.
Bu, sejuta kenangan telah melewati waktu,
Meski pada ujung temu, kita kembali terpisahkan waktu
Yang kini menjadi candu rindu.
Dan apa ibu tau? Dari lubuk terdalam, kami tak ingin apabila kau pergi meninggalkan sepi.
Menyisa sejarah, yang harus kami ziarahi setiap waktu.
Entah bagaimana nasib kami saat kau melangkah jauh kesana,
Mungkin layaknya buih lautan yang tak berguna,
Atau awan-awan yang berserakan.

Kami mandiri, kami tak ingin terus bergantung padamu...
Tapi kau adalah pondasi utama kesuksesan kami,
Kau menempah kami dengan ilmu kedewasaan didalam ketenangan.
Maaf, jika kata-kata ini membuatku durhaka,
Maaf, jika semua ini membuatmu resah,
Maaf, hanya ini yang dapat kami berikan pada hari perpisahan, agar kelak menjadi sebuah ketenangan didalam kenangan.

Aceh, 26 Oktober 2018

Puisi Kematian

ARLOJI KEMATIAN
Oleh: Risca Nanda Fontia

Ketika detik tak lagi berdetak,
Raga menggulung diri di ranjang renta.
Kerap terdengar riuh igaumu sepanjang pekat malam.
Tatapanmu kosong, suram, tak berpenghuni,
Hingga tampak oleh mata, nyawamu melompat-lompat di atas dada.

kurasa, di ketika arloji tak bernyawa,
Sejuk datang menggoda manja,
Di kala kabut malam masih berdiam diri.

Jikalau diizinkan, ingin kudekap gunung menjulang,
Demi terpuaskan hasrat, serta menghangatkan darah dingin.
Ingin kutenun ayat-ayat cinta sepanjang lorong rahasiamu,
Cinta abadi yang tak dapat kuraih bersamanya.

Aku tengkurap, merangkak melata di atas pualam beku,
Tersesat akan lebatnya pepohonan hutan padang panjang,
Serta akar-akar kokoh yang menghalangi jalanku.
Karena setiap harapan yang kugali disana,
Sering menjelma kesuraman yang menggelapkan jalan menuju kebahagiaan.

Aceh, 12 Februari 2018

Puisi Rindu

DAEGI JUNG 
Oleh: Risca Nanda Fontia

Sejuk memecah pilu disaat malam membuta.
Jejak bayang tersapu manisnya kata indah,
Menanti sesosok pujangga cinta
Yang tak kunjung tampak tersapu mata.
Meski dingin terus datang menggoda.
Termanggu,
Berpangku,
Sepi diatas pualam beku.
Terjerat akan bingkai rindu
Yang selalu menuntut bertemu.

Kuharap, penantian tak berujung semu
Hingga kelak kita bersatu.

Disini, terus menanti
Hingga jasad ini, busuk karena mati.


Aceh, 24 April 2018

Kamis, 01 Maret 2018

Puisi Pembelaan Wanita

      •°•SAMAR RINTIHAN BUNGA PUTIH•°•
                 Oleh: Risca Nanda Fontia

Rintihanmu ibarat radio tak berantena,
Kudengar, tetap saja tak kuacuhkan.
Mata sipitmu tak lagi dapat membuka kelopaknya,
Sementara rintihan terdengar samar-samar, memar.
Redup padam suaramu,
Lumat tamat matamu,
Ibarat tak bernyawa sebuah harapan.

Apakah semua makhluk itu tuli?
Kelopakmu dihisap oleh nafsu membara,
Batang tak berduri dijamah tangan-tangan nakal tak terpelajar.
Tidak mungkin bunga itu hanya bisa diam dikala rona kelopak terpecah,
Tidak mungkin bunga itu hanya diam membisu,
 Dikala serat pelepah mulai tersingkap.

Kelopak yang layu tak lagi bergairah,
Batang yang merunduk hina,
Serat pelepah tersingkap lepas,
Serta benang sari bersimpah ruah.

Kulit putih tak bersisik,
Kini pudar bak tenggelam tinta hitam.

Bahkan mata menjadi buta dikala senja menyapa,
Telinga seakan tuli tak mendengar rintihanmu.
Serta rongga hati tertutup debu tebal.

Kau telah kehilangan serbuk sari oleh kumbang-kumbang biadap.
Tak lagi dapat kembali serbuk serta mahkota indahmu.

Sungguh menyedihkan menjadi sekuntum bunga,
Ketika mekar, terselip disudut telinga perawan.
Tapi kini, telah layu tak semangat! Pucat tak bergairah!
Serta mati tanpa penghormatan berarti.

Tolong!
Tolong beri ia kedamaian untuk hidup!
Berikan ia kesejahteraan tuk kembali mekar berbahagia!
Jangan biarkan ia layu merunduk tanpa pupuk,
Juga mati terinjak tapak tak bertuan.

Lindungi ia yang hanya sekuntum bunga,
Walau ia mudah layu dan mati.
Juga hormati ia,
Yang pernah memberi warna kehidupan,
Walau hanya sekucup mata memandang.

Aceh, 28 Januari 2018

Senin, 26 Februari 2018

Puisi sedih

HARU BIRU LANGIT HITAM
Oleh: Risca Nanda Fontia

Haru biru langit hitam
Menghujam  bangunan tua di kala fajar hingga senja.
Dulu, kau berkata pelangi akan segera muncul terbentang.
Tapi nyatanya badai datang mengguncang semesta.
Dulu, kau berjanji sehidup semati,
Sampai akhirnya aku, kau tinggal pergi.
Pernah terlintas sebuah katamu dulu, kita akan selalu bersama.
Namun nyatanya, langit kembali membiru beku,
Serta menangis tersedu.
Kau bukan yang terbaik,
Bukan pula yang terindah.
Karena yang terindah tidak akan menjadi bekas.

Aceh, 23 Februari 2018




Biodata penulis
Fontiasca Aleazim Atj adalah nama pena dari Risca Nanda Fontia yang terlahir di Pontianak Kalimantan Barat. Ia seorang Mahasiswi Iain Lhokseumawe jurusan pendidikan Bahasa Inggris semester 2


Sabtu, 13 Januari 2018

Puisi Kolaborasi Aceh-Sumenep

                                BEGITU MESTERI
                                      oleh: A.R

Seakan tiada kata lagi untuk kuucapkan
Renta kukuatanku hingga merasuk angan
Yang ada hanya senyum dalam pejam mataku
Entah itu siapa, aku tak tahu

Seringkali rindu menyusup dalam kalbu
Tapi entah dia siapa
Mungkin hanya sebuah ilusi,
Sekedar mimpi seolah nyata

Apa yang dapat aku lakukan?
Sedang menyapanya aku tak bisa
Hanya gelisah yang meronta merana

Apa yang dapat aku lakukan?
Sedang menatapnya aku tak mampu
Hanya dalam kesendirian aku berseru

Salahkah bila kumiliki segenggam perasaan?
Huh, biarlah kukubur rasa ini, lalu menjadi tempat perziarahan

Dan biarkan semua menabur bunga-bunga bahagia
Dengan puja-puja cinta, atau seutas doa

Namun mengertikah mereka
Tahukah bahwa cinta sejati tak akan pernah mati
Ia tak terbatas ruang dan waktu, tak terlihat oleh penglihatan mata
Ya, semua hanya bisa merasakan dengan nurani

Bahkan angan, terkadang tak mampu memahami apa itu cinta
Sungguh begitu mesteri adanya
Hanya suatu ungkapan
Namun begitu sulit, tak bisa terlukiskan

Hati ini menangis
Sungguh semakin membengis
Hanya dapat kurasa
Tanpa bisa berbuat apa

Kini bimbang membelai begitu mesra
Jangan-jangan tiada kebahagiaan cinta di dunia
Yang ada hanya harapan
Kelak tak akan ada lagi kesengsaraan

Sebab yang kumiliki satu
Dalam harapanku
Hanya kamu
Dalam kebahagiaanku

13 Januari 2018.

Jumat, 12 Januari 2018

PuisiKaryaKu "BangsakuBangunlah"

              "BANGSAKU BANGUNLAH"

Wahai.... Sang pemuda penerus bangsa!
Dengan niatan apa engkau hadir dimasaku?
Cukuplah dulu kita melihat pertumpahan darah.
Cukup dahulu kita menjajah dan terjajah!
Jangan, jangan lagi!
Jangan lagi kau mulai permusuhan dan perdebatan.
Jangan kau hancurkan jiwa anak bangsa.
Jangan!!
Aku takut mendengar ledakan senjata milikmu!
Aku takut, debu-debu masa lalu yang suram itu akan terulang kembali!
Ku pastikan, bahwa kutakkan bisa melihat indahnya mentari esok pagi...
Wahai pemuda...
Biarkan dunia ini beristirahat sejenak.
Hanya sejenak....
Jangan kau ganggu ketenangannya!
Mulailah hadir kembali dengan membawa segudang kedamaian.
Juga sertakan senyuman indah dari sudut bibirmu!
Tak sepantasnya kita saling menjajah!
Kita satu! Kita adalah satu!
Berpegang teguhlah pada satu tujuan.
Ciptakan kedamaian, agar dapat meraih tujuan yang satu padu...
Dariku, suara anak Bangsa..



Aceh, 14 Desember 2017

Kamis, 11 Januari 2018

Puisi dari sumenep "Khairul Anam"

                  PENUH GELOMBANG
                          Khairul Anam

Hidup ini bagai di tengah lautan
Penuh gelombang dan hantaman-hantaman
Terkadang tenang
Terkadang ombak datang menerjang

Sedang yang terlihat hanya pasir pantai
Dan angan berharap lekas menepi
Tapi seperti inilah adanya
Aku berlayar tanpa bahtera

Akan kemanakah diri ini pergi?
Aku tak sedikit pun mengerti
Seolah hanya mengikuti ombang-ambing tak beraturan
Tak tentu arah, tak bisa kuikuti sepenuhnya isyarat angin

Oh Tuhan, kapankah aku sampai pada tepi pantai sana?
Seperti dia, mereka dan semua
Yang kini lincah berpijak di atas pasirnya
Dan melukis, serta mengukir bahagia

Bila di antara semua berawal dari sepertiku
Tak hanya gelombang lembut yang menggiringnya
Maka dahsyatkanlah terjangan ombak dengan kemesraan badai-Mu
Sanyangilah aku sperti mereka!

Tegakah Engkau membiarkan aku terapung-apung di atas ketidak-berdayaan?
Aku ingin keselamatan
Aku ingin kebahagiaan
Hanya Engkau yang bisa memberikan

Jangan biarkan aku tenggelam
Tertusuk tajam yang begitu dalam
Jangan biarkan aku tenggelam
Karena tanpa cahaya teramat kelam

Surabaya, 06 Januari 2018.

Rabu, 10 Januari 2018

Puisi dari Sumenep "Khairul Anam"

                 DIAM DALAM KESENDIRIAN
                        Oleh: Khairul Anam

Biarkan aku mencintaimu dalam diam
Karena dalam diam tiada penolakan ataupun dendam
Biarkan aku memilihmu dalam diam
Karena di dalamnya tiada yang tega dan begitu kejam

Izinkan aku mencintaimu dalam kesendirian
Karena dalam kesendirian tiada berontak dan cemoohan
Izinkan aku memilihmu dalam kesendirianku
Karena di dalamnya tiada yang bisa memilikimu kecuali aku

Biarkan aku mengagumimu dari jauh
Karena luka tak kan mampu terarah
Izinkan aku mengagumimu dari jauh
Karena tiada yang tahu ketika resah

Izinkan memelukmu dalam anganku
Karena itu lebih indah dari parasmu
Biarkan aku memelukmu dalam mimpi
Karena mimpi tak kan kujumpai tepi


Surabaya, 27 Desember 2017

PuisiKaryaKu "SuperheroZamanDulu"

                  Superhero jaman doeloe
                  Oleh: Risca Nanda Fontia

Di tengah gelapnya malam,
Kau hadir bak rembulan.
Di tengah kesunyian,
Kau hadir bak petir yang menggelegar.
Semangatmu berkobar Layaknya api yang lahap memangsa.
Kau kobarkan semangat jiwa demi bangsa dan negara.
Kecacatanmu tertutupi oleh kemantapan jiwa dan kepekaan naluri.
Kau pemimpin tanpa mata, Tapi mata hatimu menjadi pemeran utama.
Kau manusia yang tak kenal tidur lelap,
Kau manusia yang tak peduli istirahat enak.
Karibmu adalah aku,
Aku si pembawa masalah yang selalu menghantui tenang mu,
Yang merasuki lelapmu.
Kau pantang menyerah, Demi persatuan bangsa indonesia.
Gus, kau ibarat lem super,
Yang dapat merekatkan kembali perpecahan yang terjadi.
Kau menjadi payung saat rakyatmu dilanda musibah.
Kau pantas mendapat julukan superhero jaman doeloe
Karena kau berperasaan tanpa melihat,
Kau membantu tanpa imbalan,
Kau mendukung tanpa memihak.
Gusdur, melihat tanpa mata, tapi dengan hati





Biodata penulis:
Nama.              : Risca nanda fontia
T/t/l.               : pontianak 13 may 1999
Alamat.          : Aceh utara kecamatan syamtalira aron simpang mulieng
Status.           : mahasiswi iain lhokseumawe
Pekerjaan.   : berdagang online
Hobi.                : menulis dan membaca
Cita-cita.       : penulis dan pemilik toko
Motto.            : terus bangkit meski sering terjatuh dan                                                                      dijatuhkan
Story.             : saya Risca nanda fontia, nama panggilan Risca
Saya terlahir di kota pontianak dan sebagai anak pertama dari empat  bersaudara, saya kuliah jurusan fkip bahasa inggris semester satu, hobby saya adalah menulis! Karna dengan menulis, saya dapat mengeluarkan beban pikiran dan akan menjadi sebuah karya yang dapat dibaca banyak orang. Saya juga mulai suka menulis sejak sd. Dan menulis telah menjadi makanan sehari hari saya

Puisi Taubat

 ~°~ PENGAMPUNAN ~°~

Oleh: Risca Nanda Fontia


Sepercik kehinaan mulai menyelimuti raga,
Meluap, membendung sebuah samudera
Dimana masa ditelan kelam,
Dan menetas, membentuk sebuah dosa.
Tatapan liar membalut duniaku, dan semakin merajalela.
Inginku rontokkan keangkuhan yang mengeram suram,
Dan menjadi seorang insan, layaknya rembulan bersinar terang.
Syahadat,
Kalimah penuh kesyahduan, langkah nan kenikmatan
Kaupenuhi mahligai percintaan antara keduanya.
Syahadat-Mu
 bertajuk kesempurnaan sebagai awal pertahanan,
Menuju nestapa kebahagiaan.
Diantara kendati yang menyelubungi gelora tak tergoyahkan.
Kuucap nan kusimpan sebuah kerinduan dalam rongga terdalam.
Rasa yang sungguh mencekam, tak ingin kembali terjatuh.
Kuucap berkali kali, sebelum raga menggelepar diatas tanah.
Kutahu, Tuhan takkan menerima taubat dari orang yang meninggal,
Sedang mereka didalam kekafiran.
Kubangkit dari keterpurukan, karena kupercaya,
Tuhan kan menunjukkan jalan yang lurus bagi hambanya yang ingin
BERTAUBAT


Aceh, 01 Januari 2018




Biodata penulis:
Nama pena.  :Fontiastories
Tempat lahir : Pontianak Kalimantan Barat
Alamat.          : Simpang Mulieng Kecamatan Syamtalira Aron Aceh Utara
Status             :Mahasiswi di Universitas Iain Lhokseumawe Aceh Utara
Cp                    : Wa 085296857460


Selasa, 09 Januari 2018

Puisi untuk Ibu

"Kuukir namamu"
Oleh: Fontiastories

Dikala senja, ku duduk berpangku kesunyian.
Ku lihat ke arah sudut yang diterangi sebuah pelita tak bernyawa berada seorang wanita tua yang membawa beban di perutnya.
Ia terbaring beralaskan anyaman tikar, wajahnya terlihat teduh seraya mengelus lembut beban yang ditanggungnya.
Hati ini meringis merasakan sakit dan haru.
Bagaimana bisa terlelap jika harus menanggung buntelan besar di tubuhnya.
Tanpa kusadari setetes air mata dosa mulai membasahi pipi dan berakhir di sudut bibir.
Penuh sudah raga ini akan dosa pada nya.
Seringkali ku buat air matanya jatuh berderai.
Padahal, berkat jiwa kasih sayangnya lah  para generasi terus berdatangan.
Berkat tangannya lah banyak orang dapat meraih mimpi dan sebuah angan.
Ibu, satu kata beribu makna yang kan ku ukir sejarahnya.
Yang ku kenang pengorbanannya.
Teruslah menjadi ibu kami yang senantiasa membimbing kami dengan doa-doa mustajab mu.....


Aceh, 19 Desember 2017










     Assalamualaikum, perkenalkan saya penulis di blog ini, saya menulis beberapa karangan, dimulai dari fiksi maupun nonfiksi. Puisi diatas pernah memenangkan juara dua lomba menulis puisi dalam memperingati hari ibu. Jika ada keperluan, bisa hubungi saya melalui cp dibawah
Wa: 085296857460
Line: 085296857460
See you, salam literasi :)

Kisah Nyata "Terbitlah Kala"

Bahagia? Sebuah mimpi yang sedang aku usahakan 14 tahun silam untuk menjadi sebuah nyata. Sebut saja namaku kala, kelas 5 SD pahitnya hidup ...